Cara Hemat Ongkos Kirim Saat Belanja Online Tiap Bulan
Harga barangnya cuma Rp45.000, tapi ongkos kirimnya Rp18.000. Kalau kejadian seperti ini terulang lima atau enam kali sebulan, tanpa sadar Anda sudah membayar Rp100.000 lebih hanya untuk jasa antar, dan itulah alasan banyak orang mulai...

Harga barangnya cuma Rp45.000, tapi ongkos kirimnya Rp18.000. Kalau kejadian seperti ini terulang lima atau enam kali sebulan, tanpa sadar Anda sudah membayar Rp100.000 lebih hanya untuk jasa antar, dan itulah alasan banyak orang mulai mencari cara hemat ongkos kirim yang benar-benar terasa di dompet.
Kabar baiknya, ongkir adalah salah satu pengeluaran yang paling mudah dipangkas. Tidak perlu berhenti belanja online. Yang perlu diubah hanyalah kapan, di mana, dan bagaimana Anda menekan tombol beli.
Hitung dulu berapa ongkos kirim Anda sebulan
Sebelum mencoba trik apa pun, buka riwayat pesanan di aplikasi belanja yang paling sering Anda pakai. Catat ongkir dari semua pesanan 30 hari terakhir. Banyak orang kaget dengan hasilnya. Dari pengalaman saya membantu teman merapikan keuangan, angka yang wajar untuk pekerja kantoran yang rajin belanja online berada di kisaran Rp80.000 sampai Rp200.000 per bulan.
Angka ini penting karena menjadi patokan. Kalau ongkir Anda cuma Rp30.000 sebulan, tidak usah repot. Tapi kalau di atas Rp100.000, setiap langkah di bawah bisa menghemat Rp50.000 sampai Rp150.000 per bulan, atau sekitar Rp1 juta lebih setahun. Pola yang sama dengan pengeluaran kecil yang diam-diam menguras dompet: satu kali terasa sepele, dikumpulkan jadi besar.
Cara hemat ongkos kirim dengan satu hari belanja tetap
Ini cara yang paling ampuh dan paling jarang dilakukan. Alih-alih checkout setiap kali ingat butuh sesuatu, simpan dulu barang di keranjang. Tentukan satu hari belanja, misalnya setiap Sabtu atau setiap tanggal gajian.
Caranya sederhana:
- Setiap kali butuh barang, masukkan ke keranjang, jangan langsung bayar.
- Pada hari belanja, kelompokkan barang berdasarkan toko. Barang dari toko yang sama hanya kena satu ongkir.
- Kalau ada barang yang dijual di dua toko berbeda, pilih toko yang sudah Anda beli barang lain di sana.
- Hapus barang yang ternyata sudah tidak terasa perlu. Biasanya ada satu atau dua.
Langkah keempat sering jadi bonus tersembunyi. Jeda beberapa hari membuat keinginan impulsif hilang sendiri, dan Anda hemat dua kali: ongkirnya dan barangnya.
Manfaatkan gratis ongkir dengan kepala dingin
Voucher gratis ongkir memang menolong, tapi aturannya perlu dibaca. Kebanyakan punya minimal belanja, misalnya Rp30.000 atau Rp50.000, dan batas potongan, misalnya maksimal Rp10.000 atau Rp20.000. Kalau ongkir aslinya Rp25.000 dan potongannya maksimal Rp10.000, Anda tetap bayar Rp15.000.
Beberapa kebiasaan yang membantu:
- Pilih toko dengan gudang di kota yang sama. Ongkir dalam kota sering di bawah Rp10.000, sehingga voucher bisa menutup seluruhnya.
- Cek tanggal kembar dan awal bulan. Banyak aplikasi menaikkan batas potongan ongkir pada tanggal tertentu.
- Bandingkan opsi kurir. Pengiriman reguler 3 sampai 5 hari bisa separuh harga dari pengiriman instan atau kilat.
- Pertimbangkan langganan gratis ongkir. Kalau biayanya Rp20.000 sebulan dan ongkir Anda di atas Rp80.000, hitungannya masuk akal. Kalau tidak, jangan.
Saran populer yang menurut saya keliru
Ada saran yang sering beredar: tambahkan barang lain supaya mencapai minimal belanja gratis ongkir. Kedengarannya pintar. Kenyataannya, ini salah satu cara paling cepat untuk boros.
Misalnya ongkir Rp12.000, dan Anda kurang Rp20.000 dari minimal belanja. Anda menambah barang Rp25.000 yang sebenarnya tidak dibutuhkan, demi menghemat Rp12.000. Hasil akhirnya Anda keluar uang Rp13.000 lebih banyak. Toko merancang batas minimal itu justru untuk mendorong perilaku ini, sama seperti jebakan diskon yang bikin belanja makin boros.
Aturan saya sederhana. Tambah barang hanya kalau barang itu memang ada di daftar kebutuhan bulan ini, seperti sabun, tisu, atau bumbu dapur yang pasti habis. Kalau tidak ada, bayar saja ongkirnya. Lebih murah.
Kapan lebih hemat beli langsung di toko
Tidak semua barang cocok dibeli online. Barang berat dengan harga murah, seperti beras 5 kg, air galon, atau deterjen ukuran besar, sering kena ongkir yang tidak sebanding. Ongkir beras 5 kg antar kota bisa Rp20.000 sampai Rp30.000, padahal selisih harganya dengan warung dekat rumah mungkin cuma Rp5.000.
Coba buat dua daftar. Daftar pertama berisi barang ringan dan mahal yang memang lebih murah online, misalnya kosmetik, aksesori ponsel, atau buku. Daftar kedua berisi barang berat dan murah yang lebih baik dibeli di minimarket atau pasar saat Anda sekalian lewat. Prinsip ini sejalan dengan tips belanja cerdas biar tidak boros yang menekankan total biaya, bukan hanya harga di etalase.
Trik kecil yang sering terlewat
Beberapa hal lain yang bisa menghemat ongkir tanpa banyak usaha:
- Patungan dengan teman kantor atau tetangga. Kalau beberapa orang belanja dari toko yang sama, satu pesanan dengan satu ongkir lalu dibagi rata.
- Pilih ambil di titik pengambilan. Beberapa kurir punya loket atau loker yang ongkirnya lebih rendah dari antar ke rumah.
- Perhatikan alamat yang dipakai. Kalau kantor Anda di pusat kota dan rumah di pinggiran, kirim ke kantor bisa lebih murah.
- Jangan memilih asuransi pengiriman untuk barang murah. Untuk barang Rp30.000, biaya asuransi Rp1.000 sampai Rp3.000 jarang sepadan.
Contoh hitungan satu bulan
Seorang teman saya biasa checkout 12 kali sebulan dengan rata-rata ongkir Rp11.000, total Rp132.000. Setelah menerapkan satu hari belanja tiap minggu, memilih toko dalam kota, dan membeli barang berat di warung, ia turun menjadi 5 kali checkout dengan rata-rata ongkir bersih Rp4.000 setelah voucher. Totalnya Rp20.000. Selisih Rp112.000 per bulan itu ia pindahkan langsung ke tabungan darurat.
Kesalahan kecil yang membuat ongkir tetap mahal
Banyak orang sudah tahu triknya, tapi ongkirnya tetap tinggi. Biasanya penyebabnya bukan kurang voucher, melainkan kebiasaan kecil yang terulang tanpa disadari.
Kesalahan pertama adalah membiarkan pilihan kurir otomatis. Aplikasi sering memilihkan kurir tercepat atau yang sedang dipromosikan, bukan yang termurah. Selisihnya bisa Rp3.000 sampai Rp8.000 per pesanan. Biasakan membuka menu pilihan pengiriman setiap kali checkout, meskipun cuma butuh lima detik.
Kesalahan kedua adalah membeli dari toko di pulau lain hanya karena harganya Rp2.000 lebih murah. Untuk pengiriman antar pulau, ongkir bisa naik dua sampai tiga kali lipat dibandingkan toko di provinsi yang sama. Selalu bandingkan harga barang ditambah ongkir, bukan harga barang saja. Banyak aplikasi sudah menampilkan total ini di halaman checkout, jadi lihat angka paling bawah sebelum membayar.
Kesalahan ketiga adalah retur yang tidak direncanakan. Barang yang salah ukuran atau tidak sesuai sering harus dikirim balik dengan ongkir dari kantong sendiri. Membaca tabel ukuran, melihat foto ulasan pembeli, dan bertanya ke penjual sebelum membeli bisa mencegah dua kali bayar ongkir untuk satu barang yang akhirnya tidak terpakai.
Kesalahan keempat adalah tidak mencatat. Tanpa catatan, Anda tidak tahu apakah semua usaha ini berhasil. Cukup tulis total ongkir di akhir bulan di aplikasi catatan ponsel. Setelah dua atau tiga bulan, polanya akan terlihat jelas dan Anda bisa memutuskan trik mana yang paling cocok dengan cara belanja Anda.
Pertanyaan yang sering diajukan
Bagaimana cara mendapatkan gratis ongkir tanpa minimal belanja?
Beberapa aplikasi memberikan voucher tanpa minimal belanja untuk pengguna baru atau pada tanggal promo tertentu. Toko dalam kota yang sama juga sering punya ongkir sangat rendah sehingga voucher kecil sudah menutupinya. Cek halaman voucher sebelum checkout.
Apakah langganan gratis ongkir itu worth it?
Tergantung seberapa sering Anda belanja. Hitung total ongkir sebulan terakhir. Kalau angkanya jauh di atas biaya langganan, misalnya tiga sampai empat kali lipat, langganan itu menguntungkan. Kalau Anda jarang belanja, lebih hemat tanpa langganan.
Lebih murah pengiriman reguler atau kilat?
Pengiriman reguler hampir selalu lebih murah, kadang separuh harga pengiriman kilat. Pilih kilat hanya untuk barang yang benar-benar dibutuhkan hari itu juga. Untuk kebutuhan rutin, merencanakan belanja beberapa hari lebih awal sudah cukup.
More in Hemat
Hemat
Cara Hemat Jajan Kopi Tanpa Harus Berhenti Ngopi
Segelas es kopi susu Rp25.000 terasa ringan, sampai Anda menjumlahkannya di akhir bulan dan menemukan angka Rp500.000 lebih...
Hemat
Cara Hemat Kuota Internet Bulanan Tanpa Ganti Kebiasaan
Baru tanggal 18, kuota sudah habis, lalu Anda membeli paket tambahan Rp25.000 yang hanya bertahan seminggu.
Hemat
Hemat Belanja Dapur Mingguan dengan Rencana Menu Tujuh Hari
Coba buka kulkas Anda hari Kamis malam. Biasanya ada setengah ikat bayam yang mulai layu, tomat yang sudah lembek, dan sisa...